You are here Home

Siti Ambia

E-mail Print PDF

Siang itu langit cerah. Cahaya terang benderang. Angin enggan bertiup, mengundang gerah yang memanggang. Dalam suasana seperti itulah,  Siti Ambia  terus mendayung perahunya. Melaju  membelah Sungai Singkil. Riak-riak  air  bergemericik menerpa badan perahu. Jari jemarinya yang lentik sigap mengayuh perahu agar haluannya tidak berbelok arah. 

Agar tidak oleng lenggak-lenggok badan perahu yang  diombang-ambing arus diseimbangkan Siti Ambia dengan bobot tubuhnya. Kadang ia mengikuti arus sungai, tidak jarang dia melawannya. Arus Sungai Singkil yang deras menguras tenaga si perempuan belia.

Setiap hari, dengan menaiki perahu, Siti Ambia   pergi memetik daun pandan untuk  dirajutnya menjadi tikar. Dengan perahu itu pula, ia pergi menyelam lokan dan menebang pucuk nipah. Dengan menaiki perahu Siti Ambia pergi menahan lukah memerangkap ikan leleh yang  banyak di Sungai Singkil. Dengan perahu itu pula, Siti Ambia mengantarkan bekal  orangtuanya yang sehari-hari berladang di seberang tepian.

Perahu itu kadang karam oleh arus deras air berawang. Apabila perahunya karam, Siti Ambia selalu siap merenangkan perahunya ke  tepi sungai untuk ditimba airnya. Atau kadang cukup di tengah sungai dengan cara mengoleng-olengkan perahuya. Dadannya  yang ramping semampai menari-nari terampung di dalam air. Setelah air terbuang  Siti Ambia dengan cekatan  menaiki  perahunya kembali. 

Menaiki perahu, berenang, dan meramu di Sungai Singkil, merupakan pekerjaan sehari-hari Siti Ambia dan  telah dilakukannya sejak lama.

 Pekerjaan itu ia laksanakan  dengan asyik. Tanpa rasa penat dan lelah. Tak kenal keluh dan kesah. Tak pernah mengerang sedetik pun. 

Bagi Siti Ambia, sungai adalah segala-galanya. Di Sungai, Siti Ambia mandi, mencuci, dan mengambil air minum. Bahkan, tempat buang hajat dua kali sehari.

 Melalui Sungai  Singkil inilah Siti Ambia dan keluarganya  menggantungkan harapan, mencari kehidupan sekaligus memperoleh kearifan.

Mereka tetap bersyukur kepada Allah karena kehidupan mereka sejahtera, tentram, dan bahagia. Inilah reusam syukur mereka, orang-orang yang mendiami bantaran Sungai Singkil: 

Mingkehe Mingkulu
Melehe Menutu
Mi lei Mi dukhu
Mehangke mi debekhu.

Muara Batubatu, kampung Siti Ambia, malam itu terang temaram  disinari purnama. Isya telah berlalu sesaat lamanya. Beberapa  warga pun telah  berangkat ke peraduannya dan mulai dilamun mimpi. Namun Siti Ambia bersama teman-temannya, masih tekun  menafakuri huruf demi huruf al-Quran dan menadabburinya yang dibimbing oleh ustaz yang tak lain adalah ayahnya sendiri

Suara ustaz yang  merangkap imam masjid di kampong itu, terus membelah sunyi. Dengan cerdas, ia menjelaskan makna yang terkandung dalam kitab suci al-Quran yang baru saja mereka tadaruskan.

“Pejuang-pejuang Islam dalam melawan penjajah dan orang yang  telah memerangi mereka,” kata Ustaz. “Karena panggilan iman yang telah merasuki jiwa mereka. Sebagai contoh Khalid  bin Walid Panglima tentara Islam, Dhirar bin Azwar dan adiknya seorang wanita Khaulah namanya. Mereka berjuang dan bertempur melawan tentara Romawi karena panggilan iman dan kecintaan mereka pada tanah airnya. Sebab, Allah  berfirman dalam al-Quran surat al-Baqarah ayat 190 : Dan perangilah olehmu di jalan Allah orang-orang yang memerangimu, tetapi jangan melampaui batas. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. Perintah yang sama, juga terdapat dalam al-Quran surat at-Taubah ayat 41:  Berangkat kamu baik dengan rasa ringan maupun dengan rasa berat dan berjihadlah dengan harta dan jiwamu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. Kemudian ada pula hadis nabi yang mengatakan: hubbul wathan minal iman. Cinta pada tanah air sebagian dari iman. Ayat al-Quran dan hadis tersebut telah merasuk dan berkobar dalam dada prajurit Islam. 

Siti Ambia dan murid-murid lainnya menyimak penjelasan ustaz mereka yang pernah mendalami ilmu di Dayah Oboh, pimpinan Syekh Hamzah Fansuri. Tiba-tiba, Tadabbur an al-Quran terhenti ketika sekoyong-koyong dari  tepian sungai, depan  rumah, terdengar suara  gaduh. Berteriak dan bersorak-sorak  dalam bahasa yang tidak mereka mengerti. 
Mereka melihat ke arah suara yang datang melalui sela dinding. Benar saja, di sana terlihat sekawanan pasukan sedang menambatkan perahu mereka di tubir sungai. Persis di depan rumah Siti Ambia. Mereka  mengenakan baju loreng dan memanggul senjata laras panjang.

“Berhenti- berhenti. Di sini kita berhenti,” ucap  seseorang dari mereka. 

 “Diam. Nampaknya ada tentara  datang. Cerita orang-orang tadi di lepau, mereka itu tentara Belanda,”  ucap Ayah Siti Ambia.

Siti Ambia dan teman-temannya terkesima dan terdiam. Hening, tak berani berkata-kata. Mereka dihantui ketakutan. Lalu pasukan itu menjauh ke arah timur. Teman-teman Siti Ambia pun pamit pulang ke rumah masing-masing. Dalam hati murid-murid itu, muncul sejuta tanya.

***
Sejak kehadiran tentara Belanda di Kampung Muara Batubatu, suasana kampung,  tidak lagi nyaman. Ke mana-mana tentara Belanda pergi, mereka selalu membawa senjata. Desingan peluru  acap kali terdengar. Dan selalu saja ada orang yang mati. Entah karena ditembak tentara Belanda atau meninggal biasa. Kalau penyebab meninggal ini ditanyakan,  tak satu pun warga yang berani buka bicara.

Perkampungan tidak lagi tenang. Apabila malam tiba, waktu terasa lebih panjang. Suasana sunyi. Hati diliputi ketidaktentraman. Suara anak-anak yang setiap malam membaca al-Quran tidak lagi terdengar karena anak-anak tidak berani pergi mengaji.

Siang hari Siti Ambia dan warga kampung lainnya harus  meninggalkan pengayuh dan melupakan perahu. Orang-orang mulai takut berladang di seberang tepian. Mereka tidak berani lagi mencari ikan. Tanda-tanda penderitaan mulai terlihat. Warga terpaksa hidup berhemat dan makan apa adanya. 

Orang Muara Batubatu mulai mencium aroma peperangan. Bau mesiu dan anyir darah begitu menyengat. Juga suara rintihan manusia. 



Ayah Siti Ambia dan laki-laki lainnya mau tidak mau terjun ke medan perang. Kalau tidak, Muara Batubatu akan sulit bebas dari cengkeraman orang-orang Belanda. Bertempur mulai menjadi bagian  dari kisah hidup keluarga Siti Ambia.

Peperangan berlangsung sengit, tanpa henti. Entah berapa korban yang sudah meregang nyawa. Ribuan golden uang Belanda dan pasukan terlatih lenyap percuma. Begitu pula di pihak Kerajaan Batubatu. Warga banyak yang mati syahid, termasuk ayah Siti Ambia.

 Kematian ayahnya membuat Siti Ambia bangkit berperang menggantikan ayahnya. Selama ini dia hanya di garis belakang. Kali ini ia maju ke garis depan. Bersama  Sultan Daulat, Teuku Pane, Pa Onah, Juhur, Timang, Panglima Saman, dan para pejuang  kerajaan  lainnya. 

Melihat kemauan, kegesitan, dan keberanian Siti Ambia berperang, membuat Sultan dan prajurit kerajaan terkagum-kagum padanya.  

“Hai Siti Ambia, kau telah bertempur di jalan Allah, membela tanah air dan kebenaran dengan baik sekali. Sekarang panglima perang saya serahkan padamu. Pimpinlah peperangan ini sehingga kita menuju kemenangan yang diridhai Allah,” ucap Sultan Daulat kepada Siti Ambia saat  panglima perang diserahkan kepadanya.

***
Rencana  Belanda membombardir kerajaan Batubatu melalui Sungai Singkil telah tercium pihak Siti Ambia. Lalu, ia pun mengumpulkan prajuritnya.

“Berdasarkan laporan,” kata Siti Ambia. “Sekejap lagi, tentara Belanda akan menyerang Kerajaan Batubatu melalui sungai dengan perahu. Untuk menghadang serangan ini, kita harus menebang pohon.  Pohon-pohon yang ada di bantaran sungai kita tebang. Pohon-pohon itu tidak langsung direbahkan. Masing-masing pohon kita ikat dengan pohon lain. Begitu armada perahu tentara Belanda datang, kita tumbangkan pohon-pohon itu dengan cara memutuskan tali penahan.”  

Tidak berapa lama, setelah pohon-pohon ditebang dan diikatkan pada pohon lain, armada perahu yang berisi ratusan tentara Belanda pun melaju beriring-iringan melalui Sungai Singkil. Begitu perahu melaju, Siti Ambia memerintahkan, tali rotan penahan yang diikat pada pohon lain tadi diputuskan.

“Ayo putuskan talinya,” perintah Siti Ambia. Pohon-pohon pun bertumbangan dan  menimpa armada perahu tentara Belanda. Perahu menjadi oleng, terbalik, dan karam. Prajurit  Belanda panik. Jatuh dan tenggelam. 

Dalam keadaan terapung dan megap-megap di sungai, pasukan yang dipimpin Siti Ambia datang menyerang. Mereka banyak tewas di alun Sungai Singkil.



Sungai Singkil berubah menjadi merah darah. Mayat- mayat banyak  mengapung dan hanyut ke hilir sungai.

Gema Allahu Akbar bergemuruh. Hari itu Siti Ambia dan pasukannya kembali memenangkan peperangan. 

***

Kemenangan pasukan Siti Ambia tidak membuat panglima perang Belanda diam. Panglima marah besar. 

“Hidup atau mati, Siti Ambia harus ditangkap. Kalau sudah mati, penggal kepalanya dan bawa ke sini,” kata kafir itu. 

Untuk menjalankan perintah ini, Marsose yang terkenal kejam, displin, terlatih, dan bersenjata terbaru dikerahkan. Pemimpin mereka bernama Van Dallen. Selain melucuti Siti Ambia, hidup atau mati,  tujuan dari serangan itu membumihanguskan pusat kerajaan Batubatu.  

Siti Ambia dan pasukannya tidak mengenal gentar. Dengan gigih mereka menghadang Marsose dan mempertahankan Kerajaan Batubatu. Tetapi, musuh lebih unggul dalam persenjtaan, membuat Siti Ambi dan pasukannya terpaksa mundur sambil bertahan. 

    Pada suatu hari, Siti Ambia memancing Van Dallen dan serdadunya untuk mengejarnya ke dalam  benteng. Van Dallen terpancing. Begitu pasukan Van Dallen memasuki benteng, pasukan Siti Ambia membakar benteng. Benteng terbakar. Api berkobar-kobar. Van Dallen hangus terpanggang, begitu juga seluruh pasukan Marsosenya. 

Siti Ambia dan Panglima Saman serta seluruh pasuka Kerajaan Batubatu keluar melalui pintu. Teriakan takbir Allahu Akbar  kembali membahana di Muara Batubatu. Siti Ambia kembali memenangkan pertempuran paling berdarah dalam sejarah tersebut. Siti Ambia menyadari, Allah menghadiahi rakyat Muara Batubatu kemenangan ini. Dan derasnya arus Sungai Singkil bukan hanya telah memberinya kehidupan, tapi telah menempa perempuan belia itu. ***

Karya Sadri Ondang Jaya, seorang pendidik. Tinggal di Gosong Telaga, Aceh Singkil.

 
Joomlart