You are here Home

Jalan di Aceh Harus Bagus

E-mail Print PDF

HARI ini, Rabu, 3 Desember 2014, Dinas Bina Marga Aceh memperingati Hari Jadi Ke-69 Pekerjaan Umum (PU). Peringatan tersebut akan diisi dengan upacara yang diikuti semua pegawai Dinas Bina Marga Aceh di halaman kantor tersebut kawasan Simpang Tiga Banda Aceh.

Bagi masyarakat Aceh terutama di pesisir pantai barat dan lintas tengah, peringatan har jadi PU belumlah begitu bermakna. Sebab, hingga kini jalan nasional, jalan provinsi, maupun jalan kabupaten di daerah tersebut masih sering longsor, terutama saat musim hujan hingga membuat arus tranpostrasi macet dan terputus hingga puluhan hari. Contohnya, tanah longsor yang terjadi di lintas Blangkejeren-Takengon, lintasan Beutong Ateuh, dan beberapa jalan lainnya belum lama ini.
Kemacetan arus transportasi di jalan yang dilanda tanah longsor jelas memberi dampak negatif bagi masyarakat setempat. Salah satu dampak itu adalah, harga kebutuhan pokok seperti beras, gula pasir, minyak goreng, telur, dan bahan bakar bergerak naik. Hal yang lebih miri lain adalah, jika ada warga sakit parah yang perlu dirujuk ke Banda Aceh atau Medan, tak bisa dilakukan akibat jalan nasional di dua daerahn tersebut putus, tertimbun longsor, atau amblas ke jurang.
Terkait kenaikan harga kebutuhan pokok, hal tersebut jelas sangat membebani masyarakat setempat. Hasil produksi pertanian mereka tak bisa dipasarkan ke luar daerah. Kondisi itu membuat ekonomi warga semakin terpuruk. Masalah yang sangat kompleks itu muncul karena struktur jalan nasional di lintas tengah belum dikerjakan dan ditata dengan baik agar mampu mengatasi longsor yang sering terjadi pada musim hujan.
Gubernur Aceh, dr Zaini Abdullah, pekan lalu berharap jalan nasional di seluruh wilayah Aceh harus dibangun dengan bagus, berkualitas dan terintegrasi antara satu sentra produksi dengan daerah sentra produksi lain dan pemasarannya yakni pasar dan pelabuhan.
Menurut Gubernur, pembangunan jalan nasional dan provinsi di lintas tengah dimaksudkan untuk melancarkan arus transportasi orang dan barang di lintas tengah ke lintas timur-utara dan barat-selatan Aceh. Pembangunan jalan tembus Peureulak-Lokop-Blangkejren-Pinding-Lokop, Simpang Krueng Geukuh-Batas Bener Meriah dimaksudkan untuk memudahkan petani di Gayo Lues memasarkan produk hasil pertanian, perkebunan, perikanan darat, dan barang lainnya ke wilayah pantai timur dan utara.
Selian itu, pembangunan jalan Simpang KKA-Bener Meriah-Takengon-Blangkejeren, Gayo Lues-Kutacane, Aceh Tenggara dengan dana bantuan lunak JICA Jepang kini sedang dikerjakan. Begitu juga kelanjutan pembangunan jalan tembus Blangkeren-Trangon-batas Abdya dan jalan Genting Gerbang-Ceulala-Beutong Ateuh, serta Trumon-Buloh Seuma-Kuala Baru-Aceh Singkil untuk melancarkan arus transportasi orang dan barang dari lintas tengah ke barat-selatan Aceh.
Sedangkan jalan lintas Aceh Selatan-Subulussalam yang sering terputus akibat jalan nasional di Gunung Batu Itam Tapaktuan, Aceh Selatan yang sering amblas ke dasar luat sudah diatasi dengan pembangunan badan jalan menggunakan kontruksi balok cor beton cantilever pracetak sepanjang 1,480 Km. Total jalan yang dibangun sepanjang 5,543 Km dengan total dana Rp 99,5 miliar.
Pembangunan badan jalan itu dimulai pada Juli 2012 dengan masa kerja 830 hari dan selesai pada Oktober 2014. Kini, jalan itu sudah bisa dilalui truk interkuler dari Sumut yang membawa berbagai barang kebutuhan pokok rakyat seperti telur, minyak goreng, gas elpiji, dan barang-barang lain.
Setelah longsor ruas jalan nasional kawasan Gunung Itam Tapaktuan selesai diatasi, kata gubernur, fokus pembangunan berikutnya adalah menyelesaikan jalan lingkar Simeulue dan longsor yang sering melanda jalan nasional di kawasan Gunung Kulu dan Paro (Aceh Besar), Geurute (Aceh Jaya), dan daerah lainnya.
Untuk jalan nasional di Kawasan Gunung Kulu dan Paro sepanjang 14 Km yang sering longsor, kata Gubernur, pihaknya sudah mengusulkan program pembangunan trase badan jalan baru yang lebih memberikan kenyamanan kepada masyarakat di masa mendatang. Program tersebut dilakukan dengan cara memperpendek panjang badan jalan menjadi delapan Km. “Posisi trase badan jalan yang mau dibangun sudah dipotret dari udara,” ujar Zaini.
Sedangkan untuk mengatasi longsor di kawasan Gunung Gurutee, lanjut Gubernur Zaini, dilakukan dengan membangun tunel atau terowongan sepanjang 1,2 Km. Kalau ini bisa dilakukan, panjang jalan dari 10 kilometer menjadi 2,9 kilometer. Ditambahkan, rencana pembangunan jalan pintas dan terowongan di Gunung Kulu, Paro dan Gurutee sudah diajukan ke Presiden, Joko Widodo, Wakil Presiden, Jusuf Kalla, dan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. “Pada prinsipnya, Menteri PU, Wapres, dan Presiden setuju, tapi harus diawali dengan membuat studi kelayakan (SID dan DED) lebih dulu. Setelah itu selesai, baru bisa diambil kebijakan lanjutan,” pungkas Gubernur.(*)

Sumber : http://aceh.tribunnews.com/2014/12/03/gubernur-jalan-di-aceh-harus-bagus

Joomlart