You are here Potensi Perkebunan

Perkebunan

E-mail Print PDF

Secara umum kebijakan Dinas Perkebunan adalah, "Fasilitasi bagi pengembangan usaha perkebunan secara Sinergis dan berkelanjutan sebagai bahan penopang industri dalam negeri dan ekspor Nasional." Kebijakan umum Dinas Perkebunan Kabupaten Aceh singkil adalah antara lain sebagai berikut :

  1. Peningkatan kualitas SDM terutama guna membentuk aparatur yang profesional.
  2. Peningkatan Pelayanan dan Pembinaan untuk mempertangguh daya saing usaha agribisnis melalui pemantapan usaha ditingkat " on-farm" dan mendorong usaha ditingkat "of - farm " secara berkelanjutan dan berorientasi pasar.
  3. Peningkatan kapasitas kelembagaan masyarakat untuk mengoptimalkan pengusahaan dan pemantapan kawasan usaha perkebunan.

PROGRAM UTAMA PEMBANGUNAN PERKEBUNAN JANGKA MENENGAH TAHUN 2011-2015 :
(1) Program Peningkatan Produksi, Produktivitas dan Mutu Tanaman Perkebunan berkelanjutan, dengan kegiatan prioritas :

  • Pengembangan Tanaman Tahunan, Penyegar Perkebunan (Kelapa Sawit, , Kelapa, pinang, jahe dll).
  • Pengembangan Perbenihan, kebun induk dan percontohan perkebunan
  • Pengamatan, Pengendalian OPT Perlindungan Usaha dan Tanaman Perkebunan

(2) Program Peningkatan Nilai Tambah, Daya Saing, Mutu Produk dan Pemasaran Hasil Perkebunan dengan kegiatan prioritas :

  • Peningkatan Mutu Daya Saing, Pemasaran Hasil, Pembinaan & Peningkatan Peran Kemitraan Perkebunan

3) Program Penyediaan dan Pengembangan Prasarana dan Sarana Perkebunan dengan Kegiatan prioritas :

  • Optimasi Lahan, Peningkatan Sarana Alat Mesin dan SDM Petani Perkebunan

Konteks Global dan Nasional
Ekspansi perkebunan sawit skala besar ke pulau-pulau kecil seperti kepulauan Mentawai sebenarnya bukanlah hal yang mengejutkan. Ekspansi perkebunan sawit yang didukung kebijakan pemerintah dan lembaga keuangan internasional dan nasional ini merupakan respon untuk melayani permintaan pasar minyak sawit global dan nasional. Permintaan minyak sawit dunia meningkat tajam, dari 13,2 juta ton pada 1993 menjadi 42,38 juta ton pada 2009. Harga jual minyak sawit juga terus mengalami kenaikan yang luar biasa, yaitu mencapai US$ 765 per ton pada akhir 2009 (Barani, 2010).
Kebutuhan pasar ini direspon pemerintah dengan menggenjot produksi minyak sawit sebanyak-banyaknya dan menyediakan lahan seluas-luasnya. Luasan total lahan sawit Indonesia bergerak fantastis dari 250 ribu hektar pada tahun 1978, hingga meroket tajam menjadi 7,3 juta hektar pada tahun 2009 (Colchester, dkk., 2003; ICN, 2009). Ekspansi perkebunan sawit tidak akan berhenti sampai disini, pemerintah menargetkan luas perkebunan sawit menjadi 20 juta hektar pada tahun 2020 (Marti, 2008).
Peningkatan luas lahan sawit ini berbanding lurus dengan peningkatan produksi minyak sawit Indonesia. Total produksi minyak sawit meningkat tajam mulai dari 168 ribu ton pada tahun 1967, menjadi 19,4 juta ton pada tahun 2009, dan ditargetkan mencapai 40 juta ton pada tahun 2020 (Casson, 2003; ICN, 2009). Dari total produksi tersebut, hanya sekitar 25% atau 4,8 juta ton yang dikonsumsi oleh pasar domestik, sementara 75% sisanya ditujukan untuk pasar ekspor. Data ini menunjukkan Indonesia sebagai penghasil minyak sawit terbesar dunia, dan saat ini bersama Malaysia menjadi penyuplai terbesar minyak sawit dunia, yakni mencapai 87% (Marti, 2008).
Terkait denga penguasaan lahan perkebunan sawit, 64% dari luas total perkebunan sawit terkonsentrasi di tangan 10 konglomerat (Casson, 2003), Saat ini, dengan dukungan investasi internasional, perusahaan swasta telah menguasi 50% lahan perkebunan sawit di Indonesia (Colchester, dkk., 2006).
Di Kabupaten Aceh Singkil sendiri telah dikembangkan penanaman berbagai macam jenis komoditas ekspor seperti Kelapa sawit, kakao, lada serta tanaman perkebunan yang lain seperti kelapa, pinang, jahe, gambir, kapuk, tebu, kemiri, nilam, kapulaga dan lain – lain. Tetapi diantara tanaman tersebut yang paling dapat diandalkan sebagai tanaman penghasil pendapatan bagi masyarakat Aceh Singkil adalah Kelapa Sawit. Hal ini disebabkan karena tanaman tersebut cocok dengan countur dan jenis tanah di Aceh Singkil. Dan seiring dengan belum lamanya Kabupaten Aceh Singkil terbentuk sekitar 12 tahun maka otomatis daerah Kabupaten Aceh Singkil masih banyak memiliki lahan tidur yang saat ini hampir seluruhnya telah tergarap untuk dijadikan lahan perkebunan, pemukiman ataupun perkantoran yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah, Perusahaan Swasta maupun masyarakat. Dengan pembukaan lahan – lahan tersebut maka banyak Perusahaan kelapa Sawit Swasta yang membuka investasinya untuk lahan perkebunan dan pembangunan pabrik pengolahan kelapa sawit di Kabupaten Aceh Singkil. Sampai saat ini, berdasarkan data Dinas perkebunan dan kehutanan Kabupaten Aceh Singkil beberapa perusahaan Perkebunan Kelapa Sawit tersebut masih terus beroperasi dan telah melakukan penanaman dengan jumlah lahan yang sangat luas seperti ditunjukkan tabel dibawah ini:

No Nama Perusahaan Kecamatan Jenis Komoditi

Luas Konsesi

(Ha)

Luas Areal Tanaman

(Ha)

1 PT. Socfindo Gunung Meriah Kelapa Sawit 4414,18 4210
2 PT. Lembah Bakti Singkil Utara Kelapa Sawit 6570 5923
3 PT. Delima Makmur Danau Paris Kelapa Sawit 12.173,47 8969
4 PT. Ubertraco Kota baharu Kelapa Sawit 13.924,68 5869
5 Lestari Tungggal Pratama Danau Paris Kelapa Sawit 1861 1200
6 PT. Telaga Zam-zam Gunung Meriah Kelapa Sawit 100,05 100,05
7 PT. Jaya Bahni Utama Danau Paris Kelapa Sawit 1800 1800

 

Joomlart